Hibah Masuk FK Dihapus, Mahasiswa Senior Anggap Mahasiswa Baru Seenaknya Nikmati Fasilitas

Hibah Masuk FK Dihapus, Mahasiswa Senior Anggap Mahasiswa Baru Seenaknya Nikmati Fasilitas

Ditiadakannya hibah bagi mahasiswa angkatan 2020 menimbulkan reaksi mahasiswa lama di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tadulako. Mahasiswa lama FK...

Semprot Tubuh dengan Disinfektan saat Masuk Banggai Harap Dihentikan, WHO: Berbahaya
Bukan Napi Koruptor, Presiden Tegaskan Pembebasan Hanya untuk Napi Tipidum
Istana: Darurat Sipil Opsi Terakhir

Ditiadakannya hibah bagi mahasiswa angkatan 2020 menimbulkan reaksi mahasiswa lama di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tadulako. Mahasiswa lama FK Universitas Tadulako menyatakan, mahasiswa angkatan 2020 masuk seenaknya dan hanya menikmati fasilitas yang dibangun oleh jerih payah mahasiswa FK mulai angkatan 2008 sampai 2019.

Padahal, dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pada Pasal 84 ayat (2), pendanaan pendidikan tinggi dapat berubah hibah. Hal itu diperkuat dengan UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter pada Pasal 48 ayat (4), dinyatakan bahwa pendanaan pendidikan kedokteran dapat diperoleh dari masyarakat dalam bentuk hibah.

Atas dua aturan yang sampai saat ini masih berlaku, Rifal, salah seorang mahasiswa FK Universitas Tadulako mengaku heran karena hibah untuk mahasiswa angkatan 2020 ditiadakan. Di sisi lain, FK masih membutuhkan bantuan pendanaan untuk melengkapi sarana perkuliahan.

“Jujur saja, ini membuat kami heran. Mahasiswa baru angkatan 2020 itu seperti enak saja masuk dan menikmati fasilitas yang dibayar berdarah-darah oleh orang tua kami. Di grup-grup medsos kita bahas ini dan memang mahasiswa baru 2020 ini masuk seperti raja,” ujarnya.

Dirinya juga mempertanyakan dasar aturan yang dipakai oleh pimpinan Universitas Tadulako dan Fakultas Kedokteran sehingga hibah FK dihapuskan. Ia menyayangkan kebijakan itu. Padahal, kebijakan itu telah diterima dengan baik oleh mahasiswa dan orang tua mahasiswa Fakultas Kedokteran.

“Orang tua kami sedikitpun tidak keberatan. Karena hibah itu merupakan sumbangan sukarela yang dapat digunakan untuk membangun dan melengkapi sarana Fakultas Kedokteran. Kalau mahasiswa baru dibebankan membayar UKT sampai 20 juta pun, belum sebanding dengan hibah yang kami dan mahasiswa lama lainnya keluarkan,” tambahnya.

Sementara itu, Anshar, mahasiswa FK lainnya menyampaikan bahwa dirinya sebagai mahasiswa senior bersama mahasiswa lainnya merasakan ketidakadilan atas kebijakan itu. Anshar menyatakan, dengan masuk FK tanpa hibah, artinya mahasiswa baru diberikan kemudahan dalam menikmati fasilitas yang telah dibiayai oleh mahasiswa lama.

“Kebijakan itu membuat kami keberatan. Kami akan mempertanyakan kenapa sistem bisa berubah tanpa hibah? Kenapa mahasiswa baru diberikan kemudahan? Ini sangat aneh,” tanyanya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Semester 6 yang meminta namanya tidak disebutkan juga mengungkapkan, dirinya mendengar desas-desus bahwa untuk tahun ini hibah ditiadakan karena banyak anak petinggi Untad yang akan masuk ke FK. “Mungkin itu juga salah satu alasan. Makanya hibah ditiadakan dan semua pendanaan hanya dibebankan kepada mahasiswa lama. Kita juga hitung, seandainya UKT mahasiswa baru dinaikkan menjadi 30 juta rupiah per semester, belum sebanding dengan pengorbanan orang tua kami yang telah memberikan hibah. Saya juga dengar banyak nomor ujian dititip lewat pembantu rektor dan rektor, makanya ini juga mungkin jadi alasan tidak ada hibah,” katanya.