Jelang Lebaran, Waspadai Oknum Wartawan dan Aktivis LSM Pemeras

Jelang Lebaran, Waspadai Oknum Wartawan dan Aktivis LSM Pemeras

Lebaran Idul Fitri 1437 H, tinggal menghitung hari. Masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia dengan suka cita menyambutnya. Namun di sisi lain pasti...

Ada Perubahan Gambar Pahlawan, BI Akan Desain Uang NKRI
Tanpa Pengawalan, Putra Jokowi Sendirian ke Jakarta
Tegas, Mendikbud Akan Pecat Kepsek yang Laksanakan Ospek Tidak Mendidik

Lebaran Idul Fitri 1437 H, tinggal menghitung hari. Masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia dengan suka cita menyambutnya. Namun di sisi lain pasti banyak oknum yang memerlukan dana lebaran tetapi kesulitan memperoleh dari dana-dana halal. Oknum yang pekerjaannya jelas tetapi pendapatannya tidak menentu, akan memanfaatkan profesi yang disandangnya untuk melakukan cara-cara tidak terpuji, bahkan dapat dikategorikan cara “Haram” karena cenderung bernuansa “pemerasan”.

Pengamat media dan sosial budaya, Triambey Lubis, yang berbincang dengan sejumlah kalangan di Bandung mengatakan, ada profesi yang sering digunakan oleh oknum yang tidak bermoral, yakni oknum wartawan dan oknum LSM.

Menurut Tri, panggilan akrab Triambey, modus operandi oknum-oknum itu terlihat elegan tetapi sesungguhnya ada perbuatan tidak perpuji yang dibungkus. Tri mencontohkan, ada oknum wartawan yang mencari uang pribadi tetapi di dalam “bekerja” di depan calon mangsanya membawa nama media tempat mereka bekerja. Awalnya pura-pura ingin wawancara dan selanjutnya pertanyaan yang diajukan mulai miring-miring dengan membangun opini isu yang tentu saja negative. Bila tidak ada reaksi positif dari nara sumber, yang umumnya dalah pimpinan instansi, maka pertanyaan semakin menukik ke yang negative, mulai dari isu proyek yang tidak tuntas, pelayanan yang tidak maksimal, hingga hal-hal lain yang bisa jadi pintu masuk menakut-nakuti nara sumber, tandas Tri sambil terbahak-bahak, seolah lucu membayangkan perilaku oknum wartawan pemeras.

Menurut Tri lagi, ada dua tipe oknum wartawan pemeras yang sering datangi pimpinan instansi. Selain yang mencari uang untuk dirinya sendiri, adanya juga karena skenario dari bos oknum itu di media, bisa pemilik media bisa juga pimpinan redaksi atau redaktur dari media itu. Modusnya macam-macam, tetapi ada  juga yang ingin tembak iklan tetapi pintu masuknya berita-berita miring semua.

Tri mencontohkan bila ada media, khususnya media Online yang sudah banyak iklannya begitu Portal dibuka, maka pastikan, pimpinan instansi atau organisasi yang sudah beriklan di media online itu, tidak akan ada pernah muncul berita-berita buruknya. Tetapi pimpinan instansi yang belum beriklan dipastikan akan terus diberitakan dengan cara yang tendensius. Sebagai contoh, kata Triambey, bila Kepala Dinas A, B, dan C, sudah beriklan di media itu, sementara Kepala Dinas D belum ada iklannya, maka pasti berita-berita Kadis D negative terus. “Di situlah ‘kesialan’ Kepala Dinas D tadi tiba. Jadi itu ada faktor kesengajaan media yang menggiring dan menggoreng isu sesuai pesanan,” tambah Tri yang telah 20 tahun bermukim di kota kembang ini.

Sementara itu, khusus  oknum LSM pemeras, berbeda modus operandinya dengan oknum wartawan pemeras. Menurut Triambey, untuk oknum LSM pemeras, isu yang dibawa pasti selalu isu korupsi. Caranya, membuang isu kepada kerabat dekat pejabat calon sasaran bahwa ada LSM yang telah memiliki data lengkap perihal proyek ini itu di instansi target itu. Atas isu yang sampai di telingat pmpinan instansi itu, maka oknum LSM pemeras menunggu respons balik dari calon target.

Biasanya, ujar Triambey, oknum LSM pemeras menunggu untuk diapanggil. Bila menunggu beberapa hari tidak ada kabar untuk dilakukan nego, maka isunya ditingatkan bahwa dalam waktu dekat, masalah proyek  ini itu akan segera dilaporkan ke KPK, Mabes Polri, Jaksa Agung, Polda, Kejati, dan seterusnya. Isu ini, yang bila dianalogkan dalam pergunung-apian, disebut naik  status dari status waspada menjadi siaga. Isu dalam pemerasan oleh oknum LSM juga demikian, tambah Triambey.  Dalam isu yang naik status ini, maka oknum pemeras berharap respon dari target segera terwujud agar negosiasi bisa dimulai. “Biasanya disertai ancaman mau diteruskan laporan itu ke penegak hokum atau diselesaikan secara damai,” kata Tri.

Perilaku-perilaku oknum pemeras itu, biasanya bagian dari mafia yang juga melibatkan oknum aparat untuk memperkuat jaringannya, yang ujung-ujungnya berbagi bersama. Untuk itu, saran Tri, sepanjang tidak ada penyimpangan, pimpinan instansi tidak perlu khawatir menghadapi oknum wartawan pemeras dan oknum LSM pemeras, sebab harus diakui, tidak sedikit oknum LSM pemeras itu sudah usia tua dan terus mengkader anak-anak muda sebagai kaki tangan yang disebar mendatangi satu per satu pimpinan instansi.

Untuk itu, pimpinan instansi harus waspada dan hadapi oknum wartawan pemeras dan oknu LSM Pemeras. Mereka itu punya batas nyali, sehingga keberaniannya juga banyak yang palsu, tampak sebagai pemberani tetapi sesungguhnya juga penakut. Akhirnya, UUD alias ujung-ujungnya duit. “Mereka inilah yang terkadang merusak citra wartawan dan LSM yang berjalan dalam rel yang benar. Maka, tetap waspadai modus operandi yang dijalankan,” ujar Triambey menutup perbincangan singkat. (ss*ing)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: