JOB TOMORI- UNTAD Kembangkan 6.400 Indukan Karang Hasil Transplantasi

JOB TOMORI- UNTAD Kembangkan 6.400 Indukan Karang Hasil Transplantasi

MORUT – Terletak pada kawasan segitiga pusat terumbu karang dunia atau Th e Coral Triangle Center , eksistensi terumbu karang di Perairan Blok Toili, ...

Istana: Darurat Sipil Opsi Terakhir
Darurat Covid-19, Menag Rilis Panduan Ramadan
Hasil Lab Keluar, Bupati Morut Positif Covid-19

MORUT – Terletak pada kawasan segitiga pusat terumbu karang dunia atau Th e Coral Triangle Center , eksistensi terumbu karang di Perairan Blok Toili, Teluk Tolo Provinsi Sulawesi Tengah menjadi sangat strategis. Dengan luas total kawasan sekitar 60.000 kilometer persegi, ekosistem terumbu karang di wilayah tersebut dianggap perlu disentuh dengan upaya pelestarian ekosistem terumbu karang, termasuk upaya perbaikan kondisi ekosistemnya.

Hal ini yang mendasari diadakannya program transplantasi karang Fase IV sebagai upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Lapangan Tiaka. Program ini merupakan kerja sama antara Joint Operating

Body Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) dan Pusat Penelitian Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPKPMP) Universitas Tadulako. “Sebagai upaya pemenuhan ketentuan dan perundangan khususnya berhubungan dengan AMDAL dan lingkungan hidup, JOB Tomori senantiasa berkomitmen untuk mengambil peran yang bermanfaat bagi alam dan masyarakat banyak.

Kami harapkan dengan adanya program ini di masa mendatang masyarakat secara konsisten dan berkala dapat terlibat langsung hingga memiliki kemampuan dan kesadaran untuk menjaga ekosistem terumbu karang di perairan sekitar,’’ ungkap Deddy Syam, Health Safety Security and Environment (HSSE) Manager JOB Tomori dalam sambutan pembukaannya pada kegiatan workshop dan sosialiasi transplantasi karang Fase IV di Aula Morokoa, Kolonodale, Morowali Utara, belum lama ini.

Lebih lanjut Deddy menjelaskan bahwa program transplantasi karang ini merupakan program yang sudah semestinya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pihaknya pun berharap kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya guna kelestarian alam. “Untuk itu, secara berkala kami dan tim dari PPKPMP Universitas Tadulako melakukan monitoring dan evaluasi setiap enam bulan guna menjaga tujuan dan efektifi tas dari program ini”, tambahnya.

Hingga Memasuki Fase IV yang dimulai sejak tahun 2010 hingga akhir 2014, program ini telah berhasil mengembangkan sebanyak 6.400 pieces indukan karang hasil transplantasi yang terpelihara baik pada 400 unit media pemeliharaan di Nursery Ground perairan Lapangan Tiaka. Ukuran tiap pieces indukan karang bervariasi Berdasarkan waktu proses fragmentasinya dengan kisaran ukuran diameter karang induk antara40-60 cm. Melalui tahap restorasi dan restocking, program ini juga telah berhasil merehabilitasi areal terumbu karang seluas kurang lebih 6.000 meter persegi di sekitar perairan Lapangan Tiaka.

“Wilayah perairan Lapangan Tiaka atau Gosong Tiaka yang menjadi lokasi pengembangan program ini, adalah satu dari 11 Gosong Karang besar/utama di Blok Toili, Perairan Teluk Tolo, Provinsi Sulawesi Tengah,” kata Team Leader Program Transplantasi Karang ini, Kasim Mansyur ST MSi, dalam kesempatan yang sama.

Dikatakannya, hingga akhir 2014, program transplantasi karang di Lapangan Tiaka ini telah dikembangkan dalam empat fase yang sudah dimulai sejak Tahun 2010. Setiap fasenya, kata Kasim, terdiri dari lima tahap “Tahap pertama merupakan awal pelaksanaan pada tiap siklus fase program, terdiri dari kegiatan sosialisasi, survey dan pemetaan lokasi bibit karang dan nursery ground, proses fragmentasi karang, serta penataan nursery ground. Sementara itu, tahap II hingga tahap IV merupakan rangkaian monitoring dan perawatan fragment karang serta media nursery. Sedangkan tahap V merupakan fi nalisasi dari satu siklus fase program dengan dua komponen utama pekerjaan yaitu “Restorasi karang” dan “Restoking karang.

“ Bibit karang pada Fase I 2010 masih bersumber dari ketersediaan indukan karang alam di sekitar perairan Lapangan Tiaka, sedangkan pada pengembangan program pada fase-fase selanjutnya hingga tahun 2014, bibit karang sepenuhnya bersumber dari indukan karang hasil transplantasi,’’ jelas Kasim.

Program yang digagas oleh JOB Tomori bersama PPKPMP Untad ini, tampaknya menjadi motivasi tersendiri bagi Pemerintah Daerah setempat. Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Kehutanan Daerah Kabupaten Morowali Utara, Ir Sulzof Yan Lamandasa mengakui bahwa program transplantasi karang ini akan menjadi masukan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam hal penentuan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan ke depan.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Bidang Pemantauan dan Konservasi Sumber Daya Alam, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Sulawesi Tengah, Abd Rahman S.Sos MS. Menurutnya bahwa urusan lingkungan hidup tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran serta dan kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mendukung kesinambungan program-program lingkungan hidup yang dijalankan.

Terbatasnya kemampuan pemerintah dari sisi pendanaan maupun sumber daya manusia, menyebabkan belum maksimalnya cakupan implementasi terhadap programprogram semacam ini. “Melaksanakan program peningkatan lingkungan hidup ini diperlukan sinergitas program antarapemerintah, pihak swasta, perguruan tinggi dan masyarakat, juga perlunya menyadari pentingnya pemanfaatan sumber daya alam yang berkualitas,” ujar Abd Rahman.

Di antaranya hadir dalam workshop yang berlangsung sehari tersebut, Kepala Pusat PPKPMP Universtas Tadulako Ir Novalina Serdiati MSi, serta Tim Kerja. Peserta workshop merupakan sejumlah unsur antara lain Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulteng, Sekretariat Daerah Subag Bina Sumber daya Alam Kabupaten Morowali Utara, unsur dinas terkait lainnya, LSM, Akademisi, Kelompok Nelayan, pemerintah des, serta masyarakat setempat. (af/*)

Sumber; Radar SUlteng