Kampus Harus Bebas dari Sikap-Sikap Intoleransi

Kampus Harus Bebas dari Sikap-Sikap Intoleransi

Dr Muhammad Nur Ali: Intoleransi bisa Bermuara pada Sikap Radikal   —   Langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo yang terus mendorong...

Oknum AR yang Ditangkap Polda Bukan Dosen Untad
Dr Muhammad Ikbal Terpilih Jadi Dekan FEB UNTAD
Dosen dan Staf Kependidikan Untad Siap Divaksin

Dr Muhammad Nur Ali: Intoleransi bisa Bermuara pada Sikap Radikal

 

 

Langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo yang terus mendorong suasana kohesi sosial demi atas nama marwah NKRI, adalah bagian perjuangan yang dikumandangkan Proklamator Kemerdekaan RI, Ir Soekarno dan Mohamad Hatta. Oleh karena itu, kampus, termasuk Universitas Tadulako, harus menjadi garda terdepan dalam menjabarkan Hasrat dan harapan Pak Presiden Joko Widodo untuk mengenyahkan sikap-sikap intoleransi termasuk paham radikal, hanya karena perbedaan agama, suku, ras dan asal usul. Semua itu boleh beragam, namun tidak boleh keluar dari Roh ¬†Pancasila dan Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda telah menegaskan bahwa kita ini adalah ‚ÄúSatu Nusa Satu Bangsa dan Satu Tanah Air, Tanah Air Indonesia”. Ini tidak bisa ditawar-tawar oleh kita semua, sebagai warga kampus terutama sekali bagi anak-anak mahasiswa kita untuk terus dibina dan dibimbing. Jangan malah ada pihak yang memanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan sikap intoleransi yang bisa mengarah pada paham radikal dalam berkehidupan.

Demikian rangkuman pendapat yang digambarkan Pengamat Sosial yang juga Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Tadulako, Palu, Dr Drs Muhammad Nur Ali M.Si, Ketika dimintai tanggapannya perihal sikap intoleransi dan paham radikalisme yang dikhawatirkan mewarnai kampus. Menurut Nur Ali, yang juga sebagai salah seorang pencetus lahirnya Pusat Pengembangan (Pusbang) De-radikalisasi dan Pengembangan Sosioakademik (DePSA) bersama Rektor Untad periode 2011-2015 dan 2015-2019 serta Wakil Rektor Biduk periode 2015-2019 (Prof Mahfudz) yang kini menjabat sebagai Rektor periode 2019-2023, mengatakan, bagi dia, apapun alasannya sikap intoleransi merupakan cikap bakal lahirnya cara-cara radikal untuk mencapai tujuan seseorang. Berawal dari kebencian terhadap orang yang tidak satu suku, tidak satu agama, tidak satu ras, dan tidak satu latar belakang, maka intoleransi ini dapat berkembang secara masif dalam membentur-benturkan satu sama lain. Jika muncul gesekan sosial yang diwarnai karena beda suku dan beda agama, maka akan seperti apa nasibnya kampus ini bila hanya karena perbedaan suku, agama dan asal usul selalu dijadikan isu untuk tujuan-tujuan tertentu. Kampus harus menjadi teladan pluralitas dalam berkehidupan, tandas mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako sebelum mendapat kepercayaan sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Tadulako periode 2019-2023.

Menyinggung gencarnya program pemerintah dalam melawan paham intoleransi dan radikal, Dr Nur Ali menyatakan angat setuju dan akan mengambil bagian dalam kampus. Sebab, kata Nur Ali, jika kita lengah dalam mencegah sikap-sikap intoleransi maka akan berdampak jangka Panjang. Seluruh Dosen, lanjut Nur Ali, harus menjadi teladan dalam melawan sikap intoleransi, dan jangan malah menjadi pelopor intoleransi hanya karena ada tujuan dan maksud tertentu. Perbedaan adalah rahmat yang harus disyukuri. Jangan malah dimanfaatkan untuk membuat gesekan demi kepentingan pribadi sesaat, tegasnya.

Ketika ditanya adanya bentrok mahasiswa dalam kampus Untad beberapa waktu silam, Dr Nur Ali tidak memungkiri adanya suasana seperti itu yang dikembangkan. Mengapa? Tanya Nur Ali, sebab mahasiswa Universitas Tadulako sangat memahami bahwa mereka semua adalah bersaudara. Dari manapun datangnya, apapun sukunya, apapun agamanya, kata Nur Ali, mereka sadar dan paham jika mereka disatukan dalam kampus karena tujuan yang sama dan mulia, yakni datang ke Untad untuk menuntut ilmu. Bahwa pada akhirnya ada bentrok antarmahasiswa antarfakultas, itu jelas bukan muncul tiba-tiba dari anak-anak kita. Dapat dipastikan bahwa hal itu tanda-tanda ada intoleransi di dalamnya. Siapa oknum yang mendesain di baliknya, hanya Allah dan aparat penegak hukum yang paling tahu. Intinya, kita jaga marwah kebersamaan, jauhkan kampus ini dari sikap Intoleransi dengan cara mengembangkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), dan apa yang selalu dipidatorakan oleh Pak Presiden Jokowi dan Mas Menteri Nadiem Makarim, kita warga kampus harus mengambil bagian, tegas Dr Muhammad Nur Ali M.Si, yang jebolah S1 FISIP Universtas Tadulako ini. (SS-03/4)