Khotbah Wukuf Arafah, Kiai Miftah Ajak Jamaah Gunakan Wewangian Cinta

Khotbah Wukuf Arafah, Kiai Miftah Ajak Jamaah Gunakan Wewangian Cinta

Prosesi puncak haji, wukuf di Arafah telah dimulai pada 11 September 2016 (9 Dzulhijjah). Salah satu rangkaiannya adalah mendengar khotbah wukuf yang ...

Kata Presiden Jokowi Soal 12 Pahlawan di Rupiah Baru
Helikopter TNI AD Jatuh di Poso, Dandrem 132/Tadulako Gugur
Arus Abdul Karim Nakhodai Golkar Sulteng

Prosesi puncak haji, wukuf di Arafah telah dimulai pada 11 September 2016 (9 Dzulhijjah). Salah satu rangkaiannya adalah mendengar khotbah wukuf yang menerangkan cara mencapai kemabruran haji.

Khatib wukuf jamaah calon haji asal Indonesia tahun ini adalah Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Miftahul Akhyar. Bagian pertama khotbahnya menerangkan filosofi di balik kain ihram serta berbagai larangan yang menyertai pemakai ihram.

“Di dalam keadaan ber-Ihram ada berbagai hal yang tidak boleh kita lakukan, misalnya setiap sesuatu yang mengingatkan kita kepada suatu usaha, posisi, kelas sosial, dan ras kita,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Kedung Tarukan Surabaya ini di tengah khotbah, Minggu (11/09/2016).

Ia pun menegaskan bahwa untuk melupakan hal-hal bersifat duniawi ketika telah ber-ihram, maka jamaah harus meninggalkan sejumlah perbuatan demi kemabruran ibadah haji.

“Jangan menggunakan wewangian agar kalian tidak teringat kepada kesenangan-kesenangan kalian di masa lalu. Saat ini kalian berada di dalam lingkungan spiritual. Oleh karenanya gunakanlah wewangi cinta,” ujar Kiai Miftah.

Jamaah pun tidak diperbolehkan menyakiti binatang-binatang termasuk serangga, berburu, serta mencabut atau mematahkan pepohonan. Hal ini, ujar Kiai Miftah, untuk menumbuhkan kecintaan terhadap makhluk ciptaan Allah dan membunuh kecenderungan agresif dengan bersikap damai terhadap alam.

Selama mengenakan ihram, jamaah juga dilarang bercumbu dan melakukan hubungan badan agar setiap insan yang berhaji meraih rasa cinta sejati yang hakiki. Ada pula larangan menikah baik ijab maupun qabul, baik untuk diri sendiri atau orang lain atau mewakilkan.

“Selanjutnya, jangan berdandan. Hendaknya kalian sebagaimana adanya dan diri kalian semua sudah kalian anggap tidak ada,” cetus Kiai Miftah.

Perintah tidak berdandan ini termasuk tidak boleh memakai bedak bagi kaum perempuan dan minyak rambut bagi jamaah lelaki.

Kebersihan hati pun sangat dijunjung tinggi selama ber-ihram. Sehingga jamaah dilarang berlaku curang, bertengkar, mencaci-maki, atau bersikap sombong.

Perbuatan yang membuat diri menonjol di antara orang lainnya pun dilarang. Seperti menjahit pakaian, memotong rambut, dan memangkas kuku.

“Yang utama, jangan membuat darah tertumpah,” ujar Kiai Miftah mengingatkan.

Kesemua larangan tersebut, menurutnya, ketika masih dilakukan berarti jamaah calon haji masih mengingat, melirik dan mementingkan diri atau syahwat. Padahal semuanya, urai Kiai Miftah, seharusnya telah dilepas di Miqat.

“Agar kalian kembali ke negeri kalian betul-betul telah menjadi manusia yang baru yang mampu mengaplikasikan pelajaran yang amat penting ini sebagai konsekuensi haji yang mabrur,” katanya. (*okezone.com/ing)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: