PRODUKSI BENIH BAWANG MERAH

Oleh: Ir. Maemunah,M.P. Pernyataan Kabid Distanakan Kabupaten Sigi yang mempersiapkan Desa Bolupountu Jaya menjadi pusat penangkaran benih bawang mera...

Rektor Untad Kembali Lakukan Pembohongan
Hasil Lab Keluar, Bupati Morut Positif Covid-19
Semprot Tubuh dengan Disinfektan saat Masuk Banggai Harap Dihentikan, WHO: Berbahaya
Oleh: Ir. Maemunah,M.P.
Pernyataan Kabid Distanakan Kabupaten Sigi yang mempersiapkan Desa Bolupountu Jaya menjadi pusat penangkaran benih bawang merah/ goreng karena alasan desa tersebut sebagai penghasil bawang goreng terbesar di Kabupaten Sigi, sapertinya “maaf kurang memahami masalah perbenihan tanaman”. Karena jika hanya berdasarkan pertimbangan tersebut maka mutu benih yang dihasilkan pasti kurang baik (mutu rendah/asalan), akibatnya biaya produksi Petani bawang akan semakin tinggi dan produksi  tidak akan mencapai potensi hasilnya.
     Bawang merah walaupun diproduksi secara vegetatif, tetapi jika setiap musim tanam menggunakan benih tidak bermutu (asalan) dan kondisi tersebut berlansung terus menerus mengakibatkan terjadinya degradasi produksi sekitar 2,6% untuk satu kali tanam, sementara bawang goreng Palu sudah ditanam dari berpuluh-puluh tahun yang lalu dengan benih menggunakan benih yang kurang baik, hal ini   mengakibatkan produksi/ha akan menurun terus, ditambah lagi Desa Bolupontujaya dalam budidaya bawang merah/goreng “ maaf: termasuk tinggi dalam penggunaan bahan kimia”.
   Penanganan benih berbeda dengan penanganan untuk konsumsi. Penanganan benih dimulai dari produksi, panen, prosessing, pengeringan, pembersihan, pengemasan dan penyimpanan. Sehingga dalam memproduksi benih harus  memperhatikan faktor: genetik, lingkungan tumbuh dan teknologi. Untuk itu dalam menghasilkan benih bawang merah goreng perlu memperhatikan serta mempertimbangkan aspek genetik, lingkungan/ wilayah adaptif , cara budidaya, panen, prosessing, pengeringan, pembersihan, pengemasan dan penyimpanan untuk mendukung perkembangan benih yang dihasilkan (moga aspek tersebut telah dikaji sebelumnya  sehingga menetapkan Desa Bolupoutu Jaya sebagai lokasi penangkaran benih bawang merah/ goreng)
     Perbenihan bawang merah memang merupakan hal yang cukup beresiko tinggi (jika disimpan terlalu cepat/benihnya masih dormansi, sebaliknya jika disimpan terlalu lama benihnya habis), hal inilah yang menjadi salah satu sebab tidak berkembangnya industri benih bawang merah yang  pada akhirnya menyebabkan terjadinya  kelangkaan benih bermutu untuk bawang merah.  Kebutuhan benih bermutu bawang merah di Indonesia baru dapat terpenuhi sekitar 9.524 ton kelas benih sebar atau setara 9,24 % dari total kebutuhan benih.
     Bawang merah lokal Palu sebagai salah satu komoditas unggulan daerah Sulawesi Tengah yaitu sebagai bahan baku industri bawang goreng Palu, hingga saat ini produksi bawang tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan industri bawang goreng ± 1080 – 2160 ton. Keterbatasan bahan baku menyebabkan produksi bawang goreng menjadi terbatas dan harga bawang goreng Palu relatif mahal (untuk benih menghabiskan ± 40% – 50% dari total biaya produksi). Akibatnya oleh-oleh khas Palu yang berupa bawang goreng juga ikut menjadi mahal, padahal yang namanya oleh-oleh itu sebaiknya harganya relatif murah (contoh: oleh-oleh Jogya, Bali, Makassar).
     Bawang merah ini mendukung ekonomi rakyat Petani ± 1633 KK yang tersebar di Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu. Hingga saat ini ketersediaan benih selalu menjadi kendala dalam produksi, apalagi benih dalam katagori bermutu, (mungkin inilah yang menjadi alasan Kabid Distanakan untuk secepatnya membuat penangkaran benih bawang merah, namun Beliau mungkin lupa bahwa dalam memproduksi benih ada faktor- faktor yang perlu menjadi pertimbangan). Karena  penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama dan penyakit dan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan.
     Petani bawang merah dalam memproduksi benih di wilayah Lembah Palu  umumnya menggunakan benih yang berasal dari umbi komsumsi (umur panen benih disamakan dengan komsumsi), digunakan umbi berukuran kecil (benih mahal), dan  penggunaan umbi secara terus menerus (degradasi produksi), serta beragamnya pengetahuan perbenihan serta wilayah/lokasi penanaman benih yang tersebar di 21 wilayah Lembah Palu, sehingga dengan sistem tersebut menyebabkan terjadinya variasi mutu benih yang dihasilkan.
     Tidak tersedianya benih untuk katagori benih bermutu untuk musim tanam berikutnya, mengakibatkan Petani kembali akan menanam benih yang kurang baik (asalan), kondisi ini tentu akan meningkatkan biaya produksi, namun dilain pihak akan menurunkan produksi. Di samping itu, tidak tersedianya benih pada saat dibutuhkan mengakibatkan harga benih semakin mahal. Belum adanya suatu lembaga atau penangkar benih bawang merah lokal Palu yang berfungsi sebagai penyedia atau produsen benih bagi Petani juga menyebabkan Petani sulit mendapatkan benih bermutu dalam jumlah banyak pada saat dibutuhkan (musim tanam). Untuk itu diperlukan kerjasama dan  penggkajian lebih lanjut antara pihak Universitas dan Dinas Pertanian.
*Staf  Pengajar Fakultas Pertanian Univ. Tadulako, mahasiswi Program S3 di Universitas  Brawijaya, Malang.