Rektor Untad Kembali Lakukan Pembohongan

Rektor Untad Kembali Lakukan Pembohongan

Surat Edaran Lockdown Hanya Kamuflase     Surat Edaran Rektor Universitas Tadulako (Untad) pada tanggal 27 Maret 2020 ternyata tidak dijalan...

Istana: Darurat Sipil Opsi Terakhir
Semprot Tubuh dengan Disinfektan saat Masuk Banggai Harap Dihentikan, WHO: Berbahaya
Bukan Napi Koruptor, Presiden Tegaskan Pembebasan Hanya untuk Napi Tipidum

Surat Edaran Lockdown Hanya Kamuflase

 

 

Surat Edaran Rektor Universitas Tadulako (Untad) pada tanggal 27 Maret 2020 ternyata tidak dijalankan secara serius. Surat edaran kepada seluruh warga Untad yang satu poinnya berisi tentang penutupan kampus dan kerja dari rumah itu dilanggar sendiri oleh Rektor Untad Prof Dr Mahfud MP.

Setelah mobil dinas Rektor DN 9 UT yang dipasang Nopol berplat hitam DN 1923 NM masuk, gerbang langsung ditutup oleh Security Kampus

 

Informasi tentang Rektor Untad bersama jajaran dan pegawainya tetap masuk kampus itu telah di terima oleh media ini beberapa hari sebelumnya. Dan berdasarkan hasil temuan di lapangan, terbukti Rektor Untad dengan mengendarai mobil dinas DN 9 UT yang saat itu diganti plat hitam dengan nopol DN 1923 NM memasuki kampus Untad melalui gerbang Utama Kampus sekitar jam 10.15 Wita. Tidak hanya Rektor karena sebelum dan setelah mobil Rektor masuk ke kampus, terlihat juga banyak mobil dinas dan mobil pribadi yang diketahui milik pegawai Untad masuk ke dalam kampus Untad.

Pemandangan itu terlihat ironis karena pada tanggal 27 Maret 2020 Rektor mengeluarkan Surat Edaran tentang penutupan kampus, sebagai tindak lanjut dari Himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaksanakan Kerja dari Rumah sebagai imbas dari pencegahan penyebaran Covid-19. Namun, meski telah mengeluarkan Surat Edaran yang di tandatanganinya sendiri, Rektor terlihat tetap membandel dan melaksanakan kerja di kantor Rektorat Untad.

Salah seorang pegawai Untad yang bekerja di Rektorat mengatakan, setelah surat edaran di bagikan pada hari Jumat (27/3/2020), Rektor Untad melalui pesan WA ke pegawai-pegawai menyampaikan bahwa meski ada surat edaran tentang penutupan kampus, dirinya meminta agar pegawai tetap bekerja seperti biasa. Dalam pesan WA itu Rektor mengatakan kalau dirinya membuat surat edaran itu hanya untuk menindaklanjuti perintah Presiden dan Menteri. “Jadi Pak Rektor bilang surat edaran itu di buat supaya dilihat ada tindaklanjut dan supaya dilihat oleh Menteri kalau Untad tutup kampus. Tapi pegawai harus tetap masuk karena edaran itu sifatnya keluar” jelas pegawai yang bekerja di Lantai II itu sambil memperlihatkan pesan WA dari Rektor Untad.

Imbasnya, pegawai Rektorat yang seharusnya melaksanakan tugas dan kerja dari rumah (Work From Home) terpaksa harus masuk kantor setiap hari. Meskipun takut terpapar Covid-19, pegawai harus tetap masuk kantor. Pegawai lainnya di gedung rektorat Untad yang di temui pada hari Rabu sore (1/4/2020) sebelumnya enggan mengatakan alasannya tetap masuk kantor. Namun dengan kesepakatan namanya tidak akan dipublikasikan, pegawai itu mengatakan dirinya sebenarnya takut untuk tetap masuk kantor.

“Sebelumnya kami senang karena pak Rektor membuat edaran untuk bertugas dari rumah. Tapi hari Sabtu dan Senin pagi masuk pesan di WhatsApp kalau pegawai harus tetap kerja karena Pak Rektor juga akan tetap kerja. Kalau ditanya takut, pasti takut apalagi itu kabarnya virus mematikan, tapi kalau tidak masuk kantor takut juga di potong tunjangan. Jadi serba bingung dan takut Pak” kata pegawai itu.

Rektor Untad Prof Mahfud saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Kamis siang tidak membalas satu kata pun. Meskipun pesan yang dikirimkan oleh redaksi ini telah tercentang dua berwarna biru yang merupakan pertanda bahwa pesan WhatsApp sudah dibaca. (ss09)