Tidak Kooperatif, Hein M, Kontraktor Korup Ditahan

Tidak Kooperatif, Hein M, Kontraktor Korup Ditahan

Hein Mopantauw, tersangka kasus korupsi proyek normalisasi Sungai Lobu telah ditahan sejak April lalu. Ditahannya tersangka ini akibat tidak kooperati...

Ada Perubahan Gambar Pahlawan, BI Akan Desain Uang NKRI
REKTOR BERNAZAR SUMBANG PANTI ASUHAN Rp 2,5 JUTA
Laksanakan Workshop Konstitusi dan Ketatanegaraan, MPR RI Kolaborasi dengan Untad

Hein Mopantauw, tersangka kasus korupsi proyek normalisasi Sungai Lobu telah ditahan sejak April lalu. Ditahannya tersangka ini akibat tidak kooperatif saat dipanggil sebagai saksi oleh pihak Kejaksaan Negeri Luwuk di Pagimana, Kabupaten Banggai.

Ko’ Hein, sapaan tersangka, yang merupakan kontraktor pelaksana proyek itu ditahan berdasarkan surat perintah penahanan dengan nomor PRINT-26/R2.11.9/Fd.1/04/2016. Surat perintah itu dikeluarkan oleh Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Pagimana setelah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka.

Kacabjari Pagimana, Thoriq Mulahela SH, menyatakan tersangka selama ini tidak menunjukkan itikad baik dan sikap kooperatif. Olehnya, pihaknya mengambil langkah tegas terhadap koruptor itu. Selama pemeriksaan, ujar Kacabjari, tersangka korupsi itu selalu mangkir. Hal ini yang menginisiasi penyidik untuk langsung menahannya saat kasus itu naik ke tahap penyidikan. “Kami tahan agar dapat intensif memeriksa tersanka dan dia tidak menghilangkan barang bukti,” jelasnya.

Berdasarkan data kasus, Ko’ Hein merupakan kontraktor pelaksana proyek bernilai Rp1,2 miliar untuk normalisasi Sungai Lobu di Desa Uha-uhangon, Desa Kadodi, Niubulan, Lobu serta sungai Piondo di Desa Balean dan Desa Bahingin kecamatan Lobu tahun anggaran 2015. Selain itu pula, Ko’ Hein juga diketahui memegang proyek itu sejak beberapa tahun terakhir, tetapi meskipun telah berjalan beberapa waktu, progres pelaksanaan normalisasi seolah jalan di tempat. “Artinya dia hanya makan uangnya tanpa melaksanakan proyek. Dia itu (tersangka, red), memang sudah kayak dicap pengusaha nakal. Torang (kami, red) juga heran kenapa sampai bisa dapat proyek terus, mungkin saja dia orang dekat penguasa periode lalu,” jelas salah seorang tokoh masyarakat.

Tokoh masyarakat itu juga berharap agar pihak kejaksaan dapat serius dalam menangani kasus korupsi Ko’ Hein itu. Hal itu karena Ko’ Hein telah nyata menunjukkan itikad tidak baik, di antaranya dengan mencuri uang rakyat, dan tidak kooperatif saat pemeriksaan. “Kalau perlu hukum maksimal. Bahkan mungkin lebih baik kalau dipindahkan ke Palu,” jelasnya. (ss*fjr)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0